Haedar Nashir Ingatkan Efisiensi Meski Muhammadiyah Disebut Organisasi Islam Terkaya di Dunia

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir. /HO (Dok. PP Muhammadiyah)

Yogyakarta — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengingatkan pentingnya menjalankan organisasi secara efisien meski Muhammadiyah kerap disebut sebagai organisasi Islam terkaya di dunia. Pesan itu disampaikan dalam Leadership Training bagi Pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) angkatan XI di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu malam (19/11).

Haedar menekankan bahwa besarnya aset Muhammadiyah yang mencapai triliunan rupiah tidak boleh membuat gerakan menjadi boros atau kehilangan kesederhanaan yang selama ini menjadi identitas persyarikatan. Setiap langkah organisasi, katanya, harus tetap terukur dan berorientasi pada kemajuan.

“Efisiensi ini berlaku bukan hanya untuk institusi, tetapi juga untuk setiap pimpinan baik di Amal Usaha Muhammadiyah maupun di Persyarikatan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa berbagai sanjungan terhadap capaian Muhammadiyah tidak boleh melahirkan kesombongan, meski rasa bangga tetap diperbolehkan. Kepada peserta pelatihan, Haedar menekankan agar jabatan apa pun yang diemban tidak menjadikan seseorang tinggi hati maupun rendah diri secara berlebihan.

“Kesombongan akan membuat barrier dengan orang lain. Tapi nunduk-nunduk yang menampakkan rendah diri juga tidak boleh. Moderatlah, atau tawassuth,” tegasnya.

Haedar menjelaskan bahwa kepemimpinan ideal harus memiliki tiga dimensi: ruhaniah, intelektual, dan sosial. Kombinasi ketiganya akan melahirkan kepemimpinan yang berdampak pada kemajuan institusi.

Ia menambahkan bahwa kepemimpinan di Muhammadiyah merupakan wasilah untuk menjalankan fungsi kerisalahan atau kenabian, yang dalam tradisi Islam dikenal sebagai kepemimpinan profetik. Karena itu, setiap pemimpin harus memiliki empat karakter utama: sidiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), fatanah (cerdas/bijaksana), dan tablig (mampu menyampaikan pesan).

“Sering kali sumber masalah adalah hilangnya kejujuran. Dan ketika kejujuran hilang, akan ditutup dengan ketidakjujuran,” ujar Haedar.

Menurutnya, keempat karakter kepemimpinan nabi tersebut bersifat universal dan relevan untuk semua bidang, bukan hanya urusan keagamaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *